Siapa Bilang Kurikulum 2013 Dicabut?

Pertanyaan tersebut muncul dari Wakil Presiden, Jusuf Kalla, menanggapi berbagai berita  yang menyebutkan bahwa penerapan Kurikulum 2013 dicabut, dihentikan, ditarik atau distop. Pada kenyataanya, Kurikulum 2013  akan diperbaiki agar pelaksanaannya di masa mendatang bisa lebih baik. Artinya, masa transisi penerapan Kurikulum 2013 pada semua sekolah di seluruh Indonesia akan diperpanjang. Dari berbagai observasi, penelitian, dan laporan ditemukan fakta bahwa masih ada kekurangan dalam penerapan kurikulum 2013 sehingga perlu perbaikan dan penyempurnaan. Dengan demikian, berbagai pemberitaan yang menyatakan bahwa Kurikulum 2013 dihentikan, dicabut, ditarik atau distop bersifat parsial dan cenderung menyesatkan. Kebanyakan masyarakat keliru menangkap dan memahami berita tersebut, bahwa Kurikulum 2013 tidak berlaku lagi dan kembali kepada kurikulum 2006 (KTSP).
Berkaitan dengan hal tersebut, saat ini sedang dilakukan kajian lanjutan dan menyeluruh terhadap eksistensi Kurikulum 2013. Menteri Kebudayaan dan Pendidikan Dasar dan Menengah, Anies Baswedan, telah menyatakan bahwa desain baru pengembangan Kurikulum 2013 akan rampung akhir Desember 2014. Konsepnya disusun berdasarkan situasi dan kondisi penerapan kurikulum 2013 di sekolah-sekolah yang selama ini telah menerapkannya. Hal inilah yang menyebabkan Kemendikbud tidak akan terburu-buru memperluas penerapan Kurikulum 2013 ke semua sekolah. Pada tahap awal, Kurikulum 2013 akan lebih dulu diuji penerapannya di 6.221 sekolah yang sudah menjalankannya selama tiga semester. Selama masa uji coba tersebut, secara bertahap akan dilaksanakan pelatihan bagi guru-guru di sekolah lain yang tidak melaksanakan Kurikulum 2013. Dalam hal ini, model pelatihannya adalah berupa kegiatan magang bersama pengajar di sekolah yang menerapkan Kurikulum 2013. Artinya, muara dari konsep dan desain Kurikulum 2013 yang saat ini sedang dirancang adalah semua sekolah di seluruh Indonesia akan menerapkan Kurikulum 2013.
Di lain pihak, ada pengakuan beberapa pakar bahwa Kurikulum 2013 lebih unggul dari Kurikulum 2006 (KTSP). Salah satu diantaranya, Rektor Universitas Negeri Yogyakarta, Rokhmat Wahab, yang berpendapat bahwa penerapan Kurikulum 2013 harus dilanjutkan, karena konsepnya masih lebih baik ketimbang Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) Tahun 2006. Pada Kurikulum 2013, ada pertimbangan khusus untuk menyiapkan siswa sesuai kebutuhan perkembangan zaman menghadapi kompetisi di era abad 21, sedangkan di KTSP tidak ada. Hal senada juga disampaikan oleh Ketua Komisi X DPR RI, Teuku Riefky Harsya, yang menyesalkan penghentian pemberlakukan Kurikulum 2013 oleh pemerintah. Menurutnya, substansi Kurikulum 2013 bagus untuk membangun karakter dan kompetensi murid. Kurikulum 2013 pada dasarnya menumbuhkembangkan karakter siswa dan kompetensi yang dibutuhkan dalam era globalisasi dan Masyarakat Ekonomi ASEAN.  Di lain pihak, jika kembali lagi kepada Kurikulum 2006 (KTSP) akan membuka peluang munculnya mafia buku yang dapat mengganggu proses pembelajaran. Pada penerapan kurikulum 2013 sudah ada regulasi mengenai buku gratis dan bisa diunduh sehingga tidak bergantung dengan percetakan. Artinya, dengan kembali kepada Kurikulum 2006 (KTSP), orang tua harus dibebani lagi dengan pengadaan atau pembelian buku ajar yang mana pada penerapan Kurikulum 2013 telah diberikan secara gratis oleh pemerintah melalui sekolah dalam bentuk buku siswa.

Dalam konteks inilah perlu ada informasi yang jelas dan utuh terhadap posisi, status, dan rencana ke depan terhadap keberadaan Kurikulum 2013. Hal ini penting agar masyarakat atau pihak-pihak terkait lainnya dapat menyikapi dengan baik dan benar. Pengalaman di lapangan menunjukkan bahwa ada kelebihan dan kekurangan dari pelaksanaan Kurikulum 2013. Perbedaan nyata juga sangat jelas terlihat pada penerapan Kurikulum 2013 di tingkat SD, SMP, SMA, dan SMK. Penerapan Kurikulum 2013 di tingkat SD menggunakan tematik, yang merupakan model baru bagi seluruh guru dan siswa. Kondisi ini meniscayakan siswa dan guru SD mengalami banyak kesulitan untuk beradaptasi dengan sistem tematik. Tetapi, penerapan Kuriklum 2013 di tingkat SMP, SMA, dan SMK masih menggunakan pola mata pelajaran. Dalam hal ini, Kurikulum 2013 lebih menekankan pada pendekatan saintifik yang meniscayakan adanya kegiatan 5 M (mengamati, menanya, mengumpulkan informasi, menalar/mengasosiasi, dan mengomunikasikan). Situasi dan kondisi ini menyebabkan siswa dan guru SMP, SMA, dan SMK relatif lebih cepat dan mudah beradaptasi dengan penerapan Kurikulum 2013. Akibatnya, dalam menerapkan Kurikulum 2013 tidak banyak kendala yang berarti dihadapi oleh guru dan siswa SMP, SMA, dan SMK. Berdasarkan hal tersebut, dapat disimpulkan bahwa penerapan kurikulum 2006 (KTSP) relevan diterapkan di tingkat SD, sedangkan untuk tingkat SMP, SMA, dan SMK sangat relevan menerapkan Kurikulum 2013. Dalam konteks inilah, sangat bijaksana jika dilakukan kajian yang lebih spesifik dengan memisahkan kajian penerapan Kurikulum 2013 di tingkat SD, SMP, SMA, dan SMK. Sehingga, ditemukan solusi terbaik demi peningkatan kualitas pembelajaran dan pendidikan nasional. Semoga.
Selengkapnya.. »»  

Sasaran Dan Penilaian Kerja Pegawai

(Materi Pengantar Diskusi Pendidik Dan Tenaga Kependidikan SMAN 2 Busungbiu)[1]
Oleh: Gede Putra Adnyana[2]
1.      Pendahuluan
Prestasi kerja merupakan hasil kerja yang dicapai oleh setiap PNS sesuai dengan sasaran kerja pegawai (SKP) dan perilaku kerja. SKP adalah rencana kerja dan target yang akan dicapai oleh PNS. Sedangkan perilaku kerja adalah setiap tingkah laku, sikap atau tindakan PNS yang sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan[3]. Oleh karena itu, agar prestasi kerja pegawai dapat dinilai, setiap PNS wajib menyusun SKP dan setiap kepala sekolah atau atasan yang berwenang, wajib melakukan penilaian perilaku kerja pegawai.
2.      Mekanisme Penyusunan SKP dan Penilaian Prestasi Kerja PNS


1.      Tata Cara Penyusunan SKP
Penilaian prestasi kerja PNS dilakukan berdasarkan prinsip objektif, terukur, akuntabel, partisipatif, dan transparan. Penilaian prestasi kerja PNS terdiri atas 1) unsur SKP (bobot 60%) dan 2) unsur perilaku kerja (bobot 40%). Hal-hal yang harus diperhatikan dalam menyusun SKP, yaitu: jelas, dapat diukur, relevan, dapat dicapai, memiliki target waktu[1].
Unsur-unsur SKP meliputi: unsur kegiatan tugas jabatan, angka kredit, dan target, Target yang dimaksud meliputi target kuantitas (target output), kualitas, waktu, dan biaya. Oleh karena itu dalam penyusunan SKP, sangat perlu diketahui tugas utama PNS (guru atau pegawai). Terdapat beberapa rincian tugas utama guru[2], seperti tabel berikut:
Guru Mata Pelajaran
Guru Bimbingan dan Konseling
1.      menyusun kurikulum pembelajaran;
2.      menyusun silabus pembelajaran;
3.      menyusun RPP;
4.      melaksanakan kegiatan pembelajaran;
5.      menyusun alat ukur/soal sesuai MP;
6.      menilai dan mengevaluasi proses dan hasil belajar;
7.      menganalisis hasil penilaian pembelajaran;
8.      melaksanakan pembelajaran/perbaikan dan pengayaan;
9.      menjadi pengawas penilaian dan evaluasi terhadap proses dan hasil belajar;
10.  membimbing guru pemula dalam program induksi;
11.  membimbing siswa dalam kegiatan ekstrakurikuler;
12.  melaksanakan pengembangan diri;
13.  melaksanakan publikasi ilmiah; dan
14.  membuat karya inovatif.
1.      menyusun kurikulum bimbingan dan konseling (BK);
2.      menyusun silabus bimbingan dan konseling;
3.      menyusun satuan layanan BK;
4.      melaksanakan BK per semester;
5.      menyusun alat ukur/lembar kerja prog. BK;
6.      mengevaluasi proses dan hasil BK;
7.      menganalisis hasil bimbingan dan konseling;
8.      melaksanakan pembelajaran/perbaikan tindak lanjut bimbingan dan konseling;
9.      menjadi pengawas penilaian dan evaluasi terhadap proses dan hasil belajar;
10.  membimbing guru pemula dalam program induksi;
11.  membimbing siswa dalam kegiatan ekstrakurikuler proses pembelajaran;
12.  melaksanakan pengembangan diri;
13.  melaksanakan publikasi ilmiah; dan
14.  membuat karya inovatif.
Guru juga dapat melaksanakan tugas tambahan dan/atau tugas lain yang relevan dengan fungsi sekolah, seperti sebagai: 1) kepala sekolah, 2) wakil kepala sekolah, 3) ketua program keahlian atau yang sejenisnya, 4) kepala perpustakaan sekolah, 5) kepala laboratorium, bengkel, unit produksi, atau yang sejenisnya pada sekolah, dan pembimbing khusus pada satuan pendidikan yang menyelenggarakan pendidikan inklusi.
Hal yang sama juga dapat dilakukan oleh tenaga kependidikan (staf pegawai), yakni dengan mengkaji lebih detail terhadap tupoksi masing-masing sesuai dengan tugas yang dibebankan kepadanya. Urusan tata usaha sekolah adalah bagian  dari unit pelaksana teknis penyelenggara sistem administrasi dan informasi pendidikan di sekolah[3]. Beberapa tugas pelaksana urusan, diantaranya:
Pelaksana Urusan Kepegawaian
Urusan Administrasi Kesiswaan
1.      merencanakan kebutuhan tenaga pendidik dan kependidikan
2.      Mengelola buku induk, administrasi Daftar Urut Kepangkatan (DUK)
3.      Melaksanakan registrasi dan kearsipan kepegawaian
4.      Menyiapkan format- format kepegawaian
5.      Memproses kepangkatan, mutasi, dan promosi pegawai
6.      Menyusun dan menyajikan data/statistik kepegawaian
1.     Membantu kegiatan penerimaan peserta didik baru
2.     Membantu kegiatan masa Orientasi
3.     Mendokumentasikan prestasi akademik dan nonakademik
4.     Membuat data statistic peserta didik
5.     Membuat layanan system informasi dan pelaporan administrasi kesiswaan
Dengan mengkaji tupoksi TPK, dapat disusun SKP guru, seperti disajikan pada tabel berikut:

Selengkapnya, silahkan unduh di sini: Sasaran dan Penilaian Kerja Pegawai (Guru)



[1] Peraturan Kepala Badan Kepegawaian Negara Nomor:1 Tahun 2013 Tanggal: 3 Januari 2013 tentang  Ketentuan Pelaksanaan Peraturan Pemerintah Nomor 46 Tahun 2011 tentang Penilaian Prestasi Kerja Pegawai Negeri Sipil
[2] Lampiran Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 35 Tahun 2010 Tanggal 1 Desember 2010 tentang Petunjuk Teknis Pelaksanaan  Jabatan Fungsional Guru Dan Angka Kreditnya
[3] Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Republik Indonesia Nomor 24 tahun 2008 tentang Standar Tenaga Administrasi Sekolah/Madrasah


[1] Disampaikan pada Diskusi Pendalamam Pemahaman tentang Sasaran dan Penilaian Kerja Pegawai di Lingkungan SMAN 2 Busungbiu, Sabtu, 6 Desember 2014
[2]  Guru pada SMAN 2 Busungbiu yang diber tugas tambahan sebagai Kepala Litbang SMAN 2 Busungbiu
[3] Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 46 Tahun 2011 Tentang Penilaian Prestasi Kerja Pegawai Negeri Sipil
Selengkapnya.. »»  

Surat Mendikbud tentang Implementasi Kurikulum 2013

Nomor : 179342/MPK/KR/2014 5 Desember 2014
Hal : Pelaksanaan Kurikulum 2013

Yth. Ibu / Bapak Kepala Sekolah
di
Seluruh Indonesia

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Salam sejahtera bagi kita semua.

Semoga Ibu dan Bapak Kepala Sekolah dalam keadaan sehat walafiat, penuh semangat dan bahagia saat surat ini sampai. Puji dan syukur selalu kita panjatkan ke hadirat Tuhan Yang Maha Kuasa atas segala limpahan rahmat dan hidayahnya pada Ibu dan Bapak serta semua Pendidik dan Tenaga Kependidikan yang telah menjadi pendorong kemajuan bangsa Indonesia lewat dunia pendidikan.

Melalui surat ini, saya ingin mengabarkan terlebih dahulu kepada Kepala Sekolah tentang Keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan terkait dengan pelaksanaan Kurikulum 2013, sebelum keputusan ini diumumkan kepada masyarakat melalui media massa.
Sebelum tiba pada keputusan ini, saya telah memberi tugas kepada Tim Evaluasi Implementasi Kurikulum 2013 untuk membuat kajian mengenai penerapan Kurikulum 2013 yang sudah berjalan dan menyusun rekomendasi tentang penerapan kurikulum tersebut ke depannya.

Harus diakui bahwa kita menghadapi masalah yang tidak sederhana karena Kurikulum 2013 ini diproses secara amat cepat dan bahkan sudah ditetapkan untuk dilaksanakan di seluruh tanah air sebelum kurikulum tersebut pernah dievaluasi secara lengkap dan menyeluruh.

Seperti kita ketahui, Kurikulum 2013 diterapkan di 6.221 sekolah sejak Tahun Pelajaran 2013/2014 dan di semua sekolah di seluruh tanah air pada Tahun Pelajaran 2014/2015. Sementara itu, Peraturan Menteri nomor 159 Tahun 2014 tentang evaluasi Kurikulum 2013 baru dikeluarkan tanggal 14 Oktober 2014, yaitu tiga bulan sesudah Kurikulum 2013 dilaksanakan di seluruh Indonesia.

Pada Pasal 2 ayat 2 dalam Peraturan Menteri nomor 159 Tahun 2014 itu menyebutkan bahwa Evaluasi Kurikulum bertujuan untuk mendapatkan informasi mengenai:
1. Kesesuaian antara Ide Kurikulum dan Desain Kurikulum;
2. Kesesuaian antara Desain Kurikulum dan Dokumen Kurikulum;
3. Kesesuaian antara Dokumen Kurikulum dan Implementasi Kurikulum; dan
4. Kesesuaian antara Ide Kurikulum, Hasil Kurikulum, dan Dampak Kurikulum.

Alangkah bijaksana bila evaluasi sebagaimana dicantumkan dalam pasal 2 ayat 2 dilakukan secara lengkap dan menyeluruh sebelum kurikulum baru ini diterapkan di seluruh sekolah. Konsekuensi dari penerapan menyeluruh sebelum evaluasi lengkap adalah bermunculannya masalah-masalah yang sesungguhnya bisa dihindari jika proses perubahan dilakukan secara lebih seksama dan tak terburu-buru.

Berbagai masalah konseptual yang dihadapi antara lain mulai dari soal ketidakselarasan antara ide dengan desain kurikulum hingga soal ketidakselarasan gagasan dengan isi buku teks. Sedangkan masalah teknis penerapan seperti berbeda-bedanya kesiapan sekolah dan guru, belum meratanya dan tuntasnya pelatihan guru dan kepala sekolah, serta penyediaan buku pun belum tertangani dengan baik. Anak-anak, guru dan orang tua pula yang akhirnya harus menghadapi konsekuensi atas ketergesa-gesaan penerapan sebuah kurikulum. Segala permasalahan itu memang ikut melandasi pengambilan keputusan terkait penerapan Kurikulum 2013 kedepan, namun yang menjadi pertimbangan utama dalam pengambilan keputusan ini adalah kepentingan anak-anak kita.

Maka dengan memperhatikan rekomendasi tim evaluasi implementasi kurikulum, serta diskusi dengan berbagai pemangku kepentingan, saya memutuskan untuk:

1. Menghentikan pelaksanaan Kurikulum 2013 di sekolah-sekolah yang baru menerapkan satu semester, yaitu sejak Tahun Pelajaran 2014/2015. Sekolah-sekolah ini supaya kembali menggunakan Kurikulum 2006. Bagi Ibu/Bapak kepala sekolah yang sekolahnya termasuk kategori ini, mohon persiapkan sekolah untuk kembali menggunakan Kurikulum 2006 mulai semester genap Tahun Pelajaran 2014/2015. Harap diingat, bahwa berbagai konsep yang ditegaskan kembali di Kurikulum 2013 sebenarnya telah diakomodasi dalam Kurikulum 2006, semisal penilaian otentik, pembelajaran tematik terpadu, dll. Oleh karena itu, tidak ada alasan bagi guru-guru di sekolah untuk tidak mengembangkan metode pembelajaran di kelas. Kreatifitas dan keberanian guru untuk berinovasi dan keluar dari praktik-pratik lawas adalah kunci bagi pergerakan pendidikan Indonesia.

2. Tetap menerapkan Kurikulum 2013 di sekolah-sekolah yang telah tiga semester ini menerapkan, yaitu sejak Tahun Pelajaran 2013/2014 dan menjadikan sekolah-sekolah tersebut sebagai sekolah pengembangan dan percontohan penerapan Kurikulum 2013. Pada saat Kurikulum 2013 telah diperbaiki dan dimatangkan lalu sekolah-sekolah ini (dan sekolah-sekolah lain yang ditetapkan oleh Pemerintah) dimulai proses penyebaran penerapan Kurikulum 2013 ke sekolah lain di sekitarnya. Bagi Ibu dan Bapak kepala sekolah yang sekolahnya termasuk kategori ini, harap bersiap untuk menjadi sekolah pengembangan dan percontohan Kurikulum 2013. Kami akan bekerja sama dengan Ibu/Bapak untuk mematangkan Kurikulum 2013 sehingga siap diterapkan secara nasional dan disebarkan dari sekolah yang Ibu dan Bapak pimpin sekarang. Catatan tambahan untuk poin kedua ini adalah sekolah yang keberatan menjadi sekolah pengembangan dan percontohan Kurikulum 2013, dengan alasan ketidaksiapan dan demi kepentingan siswa, dapat mengajukan diri kepada Kemdikbud untuk dikecualikan.

3. Mengembalikan tugas pengembangan Kurikulum 2013 kepada Pusat Kurikulum dan Perbukuan, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI. Pengembangan Kurikulum tidak ditangani oleh tim ad hoc yang bekerja jangka pendek. Kemdikbud akan melakukan perbaikan mendasar terhadap Kurikulum 2013 agar dapat dijalankan dengan baik oleh guru-guru kita di dalam kelas, serta mampu menjadikan proses belajar di sekolah sebagai proses yang menyenangkan bagi siswa-siswa kita.

Kita semua menyadari bahwa kurikulum pendidikan nasional memang harus terus menerus dikaji sesuai dengan waktu dan konteks pendidikan di Indonesia untuk mendapat hasil terbaik bagi peserta didik. Perbaikan kurikulum ini mengacu pada satu tujuan utama, yaitu untuk meningkatkan mutu ekosistem pendidikan Indonesia agar anak-anak kita sebagai manusia utama penentu masa depan negara dapat menjadi insan bangsa yang: (1) beriman dan bertakwa kepadaTuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, mandiri, demokratis, bertanggung jawab; (2) menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi; dan (3) cakap dan kreatif dalam bekerja. Adalah tugas kita semua untuk bergandengan tangan memastikan tujuan ini dapat tercapai, demi anak-anak kita.

Pada akhirnya kunci untuk pengembangan kualitas pendidikan adalah pada guru. Kita tidak boleh memandang bahwa pergantian kurikulum secara otomatis akan meningkatkan kualitas pendidikan. Bagaimanapun juga di tangan gurulah proses peningkatan itu bisa terjadi dan di tangan Kepala Sekolah yang baik dapat terjadi peningkatan kualitas ekosistem pendidikan di sekolah yang baik pula. Peningkatan kompetensi guru, kepala sekolah dan tenaga kependidikan akan makin digalakkan sembari kurikulum ini diperbaiki dan dikembangkan.

Pada kesempatan ini pula, saya juga mengucapkan apreasiasi yang setinggi-tingginya atas dedikasi yang telah Ibu dan Bapak Kepala Sekolah berikan demi majunya pendidikan di negeri kita ini. Dibawah bimbingan Ibu dan Bapak-lah masa depan pendidikan, pembelajaran, dan pembudayaan anak-anak kita akan terus tumbuh dan berkembang. Semoga berkenan menyampaikan salam hangat dan hormat dari saya kepada semua guru dan tenaga kependidikan di sekolah yang dipimpin oleh Ibu dan Bapak. Bangsa ini menitipkan tugas penting dan mulia pada ibu dan bapak sekalian untuk membuat masa depan lebih baik. Semoga Tuhan Yang Maha Esa selalu melindungi kita semua dalam upaya meningkatkan mutu pendidikan dan kebudayaan nasional.

Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Jakarta, 5 Desember 2014
Menteri Pendidikan dan Kebudayaan,
Anies Baswedan


Top of Form
Selengkapnya.. »»  

Penerapan K-13 untuk Sekolah Terpilih

Kementerian Kebudayaan dan Pendidikan Dasar dan Menengah, menyimpulkan bahwa penerapan K-13 tidak akan diterapkan di semua sekolah. Tetapi, akan diterapkan kepada sekolah-sekolah yang sudah siap saja. Dalam hal ini, Mendikbud akan menyaring kesiapan sekolah berdasarkan sejumlah kriteria. Untuk sekolah-sekolah yang belum siap, mendikbud mengizinkan kembali kepada Kurikulum 2006.
Menurut Ketua Tim Evaluasi K-13, Prof Suyanto, bahwa Mendikbud akan membuat sekolah-sekolah prototipe atau sekolah model untuk K-13. Sekolah prototipe terdiri atas sekolah-sekolah yang melaksanakan K-13 pada tahap pertama (tahun 2013), yaitu sebanyak 6.326 sekolah, ditambah dengan sebagian sekolah pelaksana K-13 di tahap kedua (tahun 2014) yang dinilai sudah siap.
Tim evaluasi K-13 mengajukan tiga opsi terkait kelanjutan K-13. Pertama, K-13 akan dihentikan sama sekali. Kedua, K-13 diterapkan di sekolah-sekolah terpilih yang sudah sangat siap dari berbagai aspek. Ketiga, K-13 dijalankan seperti saat ini tapi dilakukan pembenahan sehingga hasilnya lebih baik.
Di pihak lain, anggota tim evaluasi K-13, Guru Besar Universitas Pendidikan Indonesia (UPI), Prof Hamid Hasan mengatakan keputusan mendikbud adalah melanjutkan K-13 namun secara terbatas dengan menunjuk sekolah-sekolah prototipe. Menurutnya, tim evaluasi masih menyiapkan kriteria sekolah-sekolah yang dianggap siap untuk melaksanakan K-13. Sampai saat ini belum dapat dipastikan jumlah sekolah yang dinilai siap. Namun, salah satu kriterianya adalah akreditasi sekolah. (http://www.beritasatu.com/kesra/230099, Rabu, 03 Desember 2014).

Terlepas dari penerapan K-13 kepada sekolah terpilih, hal kecil namun berdampak besar yang perlu diperhatikan adalah proses perekrutan guru pendamping dan instruktur nasional K-13. Saat ini, belum ada prosedur yang jelas, sistematis, transparan, dan dapat dipertanggung-jawabkan terhadap penentuan guru pendamping dan instruktur nasional K-13. Bahkan, ada kesan proses perekrutan tersebut kental dengan kolusi dan nepotisme. Akibatnya, hadirlah guru pendamping dan instruktur nasional K-13 yang tidak berkompeten. Kondisi ini potensial menyebabkan kekeliruan informasi kepada guru-guru pelaksana K-13. Padahal, guru inilah ujung tombak dari keberhasilan penerapan K-13. Oleh karena itu, sangat urgen dan relevan untuk mereview kembali status guru pendamping dan instruktur nasional K-13. Hal ini dimaksudkan agar pesan-pesan K-13 dapat sampai kepada guru-guru pelaksana K-13 dengan baik dan benar. Sehingga, penerpan K-13 tepat guna dan tepat sasaran demi mencerdaskan kehidupan bangsa (gpa).
Selengkapnya.. »»  

Memuliakan Guru, Mungkinkah?

Seorang guru tidak boleh berhenti belajar karena ilmu berkembang dengan sangat cepat mendahului zamannya. Selain harus mengajar dengan cara yang baik dan menyenangkan, guru juga harus menjadi pembelajar yang baik. (Wapres Jusuf Kalla, dalam sambutan puncak peringatan Hari Guru Nasional 2014, Istora Senayan, Jakarta, Kamis, 27/11/2014 dalam http://edukasi.kompas.com/read/2014/11/28/10584321). Seorang pembelajar bukan hanya sekadar membaca, mengetahui, dan memahami teori-teori pembelajaran dan materi pelajaran. Tetapi, harus selalu menghubungkan dengan kehidupan nyata sehari-hari (bersifat kontekstual). Sehingga pengetahuan akan bermakna untuk menyelesaikan permasalahan dalam kehidupan.

Apa yang diungkapkan Wapres Jusuf Kalla dalam pantun berikut ini, mengindikasikan posisi strategis seorang guru.
Ke hulu membuat pagar,
jangan terpotong batang durian,
Cari guru tempat belajar,
supaya jangan sesal kemudian.
Anak ayam turun sembilan,
mati satu tinggal delapan.
Untuk maju, ilmu jangan ketinggalan,
pada guru kita gantungkan harapan.
(Pantun Wapres Jusuf Kalla, dalam puncak peringatan Hari Guru Nasional 2014, di Istora Senayan, Jakarta, Kamis, 27/11/2014 dalam http://edukasi.kompas.com/ read/2014/11/29/07000051)
Begitu besar harapan digantungkan kepada guru, maka semua pihak harus memiliki persepsi dan langkah yang satu untuk memuliakan guru. Mungkinkah? Untuk itu, janganlah ada politisasi pada posisi guru. Apalagi mutasi sewenang-wenang yang sangat menyakiti hati dan pasti menghancurkan integritas guru dalam melakukan kewajibannya mencerdaskan kehidupan bangsa.

Hendaknya mulai dibangun kesadaran yang mendalam bahwa soal guru adalah soal masa depan bangsa. Di ruang kelasnya ada wajah masa depan Bangsa Indonesia. Gurulah kelompok yang paling awal tahu potret masa depan dan gurulah yang bisa membentuk potret masa depan bangsa Indonesia. Cara sebuah bangsa memperlakukan gurunya adalah cermin cara bangsa memperlakukan masa depannya. Di pihak lain, para guru harus sadar dan teguhkan diri sebagai pembentuk masa depan Indonesia. Sehingga wajib hukumnya menjadi guru yang inspiratif, guru yang dicintai semua anak didiknya. Bangsa ini menitipkan anak-anaknya kepada guru, sebaliknya kita sebangsa harus hormati dan lindungi guru dari impitan masalah. Ingat, jadi guru bukanlah pengorbanan, melainkan kehormatan. Guru dapat kehormatan mewakili kita semua untuk melunasi salah satu janji kemerdekaan republik ini: mencerdaskan kehidupan bangsa (Anies Baswedan dalam http://edukasi.kompas.com/read/2014/11/27/19532781). Oleh karena itu, semua komponen bangsa hendaknya selalu bangga dan hormat pada guru.

Dalam konteks itulah, guru harus menunjukkan identitas diri yang sesungguhnya, yakni 1) Guru diwajibkan memiliki integritas untuk menghantarkan peserta didik sebagai generasi pembelajar. Jiwa pembelajar terbentuk ketika siswa menerima pelajaran tanpa perasaan terpaksa. Jadikan anak-anak sebagai generasi pembelajar. Dengan perasaan senang datang ke sekolah dan pulang sekolah; 2) Guru harus mampu merevolusi mental siswa menjadi peduli sebagai bagian dari lingkungan; dan 3) Guru dituntut dapat membangkitkan kesadaran siswa sebagai warga negara Indonesia. (Anies Baswedan, http://www.tempo.co/read/news/2014/11/27/079624842/).

Tidak berlebihan, kalau seorang Kahlil Gibran terketuk untuk memberi pesan dan memuliakan profesi guru dengan sebuah puisi untuk kemuliaan.
Guru
Barang siapa mau menjadi guru,
Biarkan dia memulai mengajar dirinya sendiri,
Sebelum mengajar orang lain,
Dan biarkan dia mengajar dengan teladan,
Sebelum mengajar dengan kata-kata.
Sebab mereka yang mengajar dirinya sendiri,
Dengan memperbetulkan perbuatan-perbuatannya sendiri,
Lebih berhak atas penghormatan dan kemuliaan,
Daripada mereka yang hanya mengajar orang lain,
Dan memperbetulkan perbuatan-perbuatan orang lain.
Jadi, semangatlah terus para guru,
Jangan menyerah dan teruslah belajar,
Ajari kami dengan ilmu-ilmumu,
Sehingga kami menjadi orang-orang yang akan membanggakanmu.
(Kahlil Gibran)

Terlepas dari upaya membanggakan dan memuliakan profesi guru, ternyata masih banyak fenomena yang menyebabkan guru kecewa dan bahkan menangis. Dinamika politik akibat desentralisasi pendidikan di tingkat kabupaten/kota merupakan salah satu faktor penyebab. Begitu mudah guru dimutasi, dizalimi, bahkan dihancurkan karakternya, hanya karena isu warna berbeda. Tanpa melalui proses penyelidikan dan penyidikan, guru langsung dihukum serta tidak sempat memberikan pembelaan. Sungguh tindakan otoriter yang sangat menyakiti hati para guru. Perlindungan hukum terhadap guru dirasakan masih sangat lemah. Organisasi guru di daerah tak bergigi dan tak bernyali. Akibatnya guru-guru di daerah sering menjadi bulan-bulanan penguasa. Oleh karena itu, ke depan harus ada keberpihakan kepada guru tanpa kepura-puraan. Semoga. (gpa).
Selengkapnya.. »»  

7 Alasan Orang Kaya Pelit Sumbangan

Berikut tujuh alasan orang kaya enggan memberikan sumbangan:
1. terlalu Sibuk
Pengusaha yang menjalankan sejumlah perusahaan besar sering menghabiskan banyak waktunya untuk berbisnis. Bahkan untuk sekadar makan malam bersama keluarga, dirinya akan merasa sangat kelelahan. Mencari waktu untuk memberikan atau sekadar mengingat memberi sumbangan merupakan hal besar yang sulit dilakukannya.
2. Selalu Ada Kata Nanti
Mengapa terburu-buru? Para miliarder berpikir ada banyak waktu tersisa untuk memberikan sebagian uangnya. Sebagian besar miliarder bahkan berpikir terlebih dulu untuk dan menyusun rencana matang sebelum menggelontorkan uangnya.
3. Kesulitan Memilih
Dengan waktu yang super sibuk para miliarder merasa kesulitan memilih tempat yang tepat menjatuhkan pilihan sumbangannya. Bahkan salah satu pendiri Google mengaku sangat kebingungan menentukan pilihan pemberian sumbangan yang tepat.
4. Tak Mau Sering Diminta
Sejumlah orang kaya merasa enggan memberikan sumbangan karena permintaan donasi akan terus meningkat setelah dirinya memberi sekali. Jika mengatakan tidak itu merupakan hal yang sulit, tak sulit untuk sekadar berhenti memulainya.
5. Asetnya Sulit Dikeluarkan
Banyak orang kaya yang tidak memegang uang tunai. Kebanyakan kekayaannya berupa aset yang sulit dicairkan seperti investasi dalam bentuk obligasi dan saham.
6. Menunggu Agar Lebih Kaya
Alasan lain mengapa para orang kaya tidak mendonasikan uangnya adalah karena menunggu hartanya terus bertambah. Pasalnya, aset yang diinvestasikan hari ini dapat meningkat jauh lebih tinggi pada beberapa tahun ke depan.
7. Tidak Peduli Pada Orang Lain
Alasan terakhir yang menyebabkan orang kaya enggan menyumbangkan sebagian kecil hartanya untuk orang lain kemungkinan karena rendahnya rasa empati. Bahkan sebuah penelitian menemukan 5 persen dari miliarder terkaya dunia sangat takut jatuh miskin. (http://bisnis.liputan6.com/read/2069716/)

Apapun alasannya, memberikan sumbangan atau bersedekah atau ber-dana punya, adalah bagian dari upaya membagi kebahagiaan kepada orang lain. Karena, kebahagiaan yang diterima saat ini pada hakikatnya berkat rakhmat Tuhan Yang Maha Kuasa (Asung Kerta Wara Nugraha Hyang Widhi). Walaupun upaya membagi kebahagiaan dimaksud, tidak semata dengan harta benda, tetapi dapat juga berwujud sebagai jasa atau bantuan pemikiran. Namun, bagi orang yang berkecukupan atau bahkan berlebihan dengan harta benda, maka sumbangan (dana punya) dalam bentuk uang atau benda adalah upaya yang paling cepat dan mudah. Oleh karena itu, haruslah ada kesadaran akan kewajiban ber-dana punya, bagi mereka yang sudah berkecukupan apalagi berkelebihan. Karena, sesungguhnya memberikan sumbangan (dana punya), merupakan salah satu upaya untuk menjaga agar kebahagiaan yang selama ini telah diperoleh tetap terjaga bahkan diberikan tambahan kebahagiaan. Jadi, mengapa mesti takut memberikan sumbangan atau bersedekah atau ber-dana punya. Semoga selalu dalam kebaikan (gpa).

Selengkapnya.. »»  

RPP Kimia dengan Model Discovery Learning

Berikut disajikan contoh Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) mata pelajaran Kimia dengan Pendekatan Saintifik dan model Pembelajaran Discovery Learning. Semoga bermanfaat.

RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN
(RPP)

Nama Sekolah
:
SMAN 2 Busungbiu
Mata Pelajaran
:
Kimia
Kelas / Semester
:
X / Satu
Program
:
MIA
Materi Pokok
:
Struktur Atom
Alokasi Waktu
:
2 x 45 Menit (1 x pertemuan)
Guru Mata Pelajaran
:
Gede Putra Adnyana

A.    Kompetensi Inti
KI-1
:
Menghayati dan mengamalkan ajaran agama yang dianutnya
KI-2
:
Menghayati dan mengamalkan perilaku jujur, disiplin, tanggungjawab, peduli (gotong royong, kerjasama, toleran, damai), santun, responsif dan pro-aktif dan menunjukkan sikap sebagai bagian dari solusi   atas berbagai permasalahan dalam berinteraksi secara efektif dengan lingkungan sosial dan alam serta dalam menempatkan diri sebagai cerminan bangsa dalam pergaulan dunia
KI-3
:
Memahami, menerapkan, menganalisis pengetahuan faktual, konseptual, prosedural berdasarkan rasa ingintahunya tentang ilmu pengetahuan, teknologi, seni, budaya, dan humaniora dengan wawasan kemanusiaan, kebangsaan, kenegaraan, dan peradaban terkait penyebab fenomena dan kejadian, serta menerapkan pengetahuan prosedural pada bidang kajian yang spesifik sesuai dengan bakat dan minatnya untuk memecahkan masalah
KI-4
:
Mengolah, menalar, dan menyaji dalam ranah konkret dan ranah abstrak  terkait dengan pengembangan dari yang dipelajarinya di sekolah secara mandiri, dan mampu menggunakan metoda sesuai kaidah keilmuan

B.     Kompetensi Dasar dan Indikator
KD-1.1
:
Menyadari  adanya keteraturan struktur partikel materi sebagai wujud kebesaran Tuhan YME dan pengetahuan tentang struktur partikel materi  sebagai hasil pemikiran kreatif manusia yang kebenarannya bersifat tentative
KD-2.1
:
Menunjukkan perilaku ilmiah (memiliki rasa ingin tahu, disiplin,  jujur, objektif, terbuka,  mampu membedakan fakta dan opini, ulet, teliti, bertanggung jawab, kritis, kreatif, inovatif,  demokratis, komunikatif) dalam merancang dan melakukan percobaan serta berdiskusi yang diwujudkan dalam sikap sehari-hari
KD-2.2
:
Menunjukkan perilaku kerjasama,santun,  toleran, cinta damai dan peduli lingkungan serta hemat dalam memanfaatkan sumber daya alam
KD-2.3
:
Menunjukkan perilaku responsif,  dan proaktif serta bijaksana sebagai   wujud kemampuan memecahkan  masalah dan membuat keputusan
KD-3.3
:
Menganalisis  struktur atom berdasarkan teori atom Bohr dan teori mekanika kuantum
Indikator:
1)      Menjelaskan struktur atom menurut teori atom Bohr
2)      Menentukan jumlah proton, neutron, dan elektron berdasarkan pengamatan gambar dan tabel
3)      Menentukan nomor atom dan nomor massa berdasarkan pengamatan gambar strukut atom dan tabel
4)      Menjelaskan perbedaan isotop, isoton, dan isobar berdasarkan pengamatan tabel
5)      Mengelompokkan atom-atom ke dalam isotop, isoton, dan isobar

KD-4.4
:
Mengolah dan menganalisi struktur atom berdasarkan teori atom Bohr dan teori mekanika kuantum
Indikator:
1)      Menggambar tiga buah struktur atom menurut teori atom Bohr yang memiliki jumlah proton lebih dari 10
2)      Menyimpulkan hubungan antara jumlah proton, neutron, elektron, nomor atom dan nomor massa berdasarkan gambar struktur atom
3)      Mengkomunikasikan gambar struktur atom menurut teori atom Bohr

C.    Tujuan Pembelajaran
1)      Peserta didik dapat menentukan jumlah proton, netron, dan elektron dalam atom dengan tepat berdasarkan pengamatan gambar struktur atom menurut teori atom Bohr
2)      Berdasarkan pengamatan tabel, peserta didik dapat menjelaskan hubungan dengan benar antara jumlah proton, jumlah neutron, nomor atom, dan nomor massa suatu atom
3)      Peserta didik dapat menentukan nomor atom dan nomor massa dengan benar berdasarkan  gambar struktur atom menurut teori atom Bohr
4)      Peserta didik dapat mengelompokkan atom-atom berdasarkan kesamaan jumlah proton, netron, dan nomor massa dengan benar
5)      Berdasarkan pengamatan tabel, peserta didik dapat menjelaskan dengan benar perbedaan antara isotop, isoton, dan isobar
6)      Peserta didik dapat menyebutkan minimal  dua pasang atom masing-masing untuk isotop, isoton, dan isobar melalui diskusi kelompok
7)      Peserta didik dapat menggambar minimal tiga buah struktur atom berdasarkan teori atom Bohr yang memiliki lebih dari 10 proton melalui diskusi kelompok
8)      Peserta didik menunjukkan rasa ingin tahu, kerjasama, disiplin,  proaktif, dan bertanggung jawab dalam melakukan diskusi untuk memecahkan  masalah dan membuat keputusan selama pembelajaran tentang struktur atom
9)      Peserta didik menunjukkan kesadaran bahwa keteraturan yang terjadi pada struktur atom adalah wujud kebesaran Tuhan Yang Maha Esa

D.    Materi Pembelajaran
1.      Teori Atom Bohr
Menurut Niels Bohr, atom tersusun dari inti atom dan lintasan-lintasan elektron. Inti atom tersusun atas proton yang bermuatan positif dan neutron yang tidak bermuatan (netral). Elektron beredar mengelilingi inti pada lintasan-lintasan tertentu, seperti sistem tata surya.
2.      Nomor Atom dan Nomor Massa
Jumlah proton dalam inti atom menyatakan nomor atom. Sedangkan jumlah proton dan neutron dalam inti atom menyatakan nomor massa. Selisih antara nomor massa dan nomor atom menunjukkan jumlah neutron.
3.      Isotop, Isoton, dan Isobar
Atom-atom yang memiliki jumlah proton sama disebut dengan isotop. Atom-atom yang memiliki jumlah neutron sama disebut isoton. Sedangkan atom-atom yang memiliki nomor massa sama disebut dengan isobar.

E.     Metode Pembelajaran
1.      Metode: Diskusi
2.      Pendekatan: Saintifik
3.      Model: Discovery Learning

F.     Media, Alat, dan Sumber Pembelajaran
1.      Media:
Lembar Kerja dan software untuk presentasi menggunakan powerpoint
2.      Alat/Bahan:
Alat-alat untuk presentasi gambar atau tabel, seperti laptop dan LCD
3.      Sumber Belajar:
a)      Buku Paket Kimia Kurikulum 2013
b)      Sumber-sumber yang relevan

G.    Langkah-Langkah Kegiatan Pembelajaran


Selengkapnya, silahkan unduh di sini:

Selengkapnya.. »»